RSS

Cerpen Terbaru

Cinta Itu Hadir Di Persimpangan Jalan


Mentari seakan enggan menampakkan dirinya di pagi itu. Ia seakan kehilangan semangat untuk tampil dan mengusir awan gelap yang sekarang maju menunjukkan diri. Dan lebih parahnya lagi awan gelap itu mulai menunjukkan kemenangannya dengan menjatuhkan butiran-butiran air. "Astagfirlahaladzim... Maafkan hamba ya Allah, jika harus mengeluhkan kondisi ini..." gerutu seorang akhwat dengan setengah berlari mencari tempat untuk berteduh. Dan tanpa sadar di persimpangan jalan depan halte bus itu ia menabrak seorang pemuda yang tampaknya juga menghindar dari butiran-butiran kemenangan awan gelap itu. "Bruuuuukkkkkk............", akhwat itu terjatuh tak terkecuali tas dan map yang ia bawa. "Aduuuuuhhh...... sakit nih....", eluhnya dengan wajah kesakitan. Nampak pemuda itu hanya terdiam tanpa ekspresi wajah yang berarti. Dia juga terjatuh di depan akhwat berbaju hijau muda dengan jilbab senada yang di hiasi asesoris berbentuk bunga berwarna ungu di samping kiri. Kalau dilihat dari tanda-tandanya, pemuda itu sekarang sedang mengalami amnesia sementara. (hehe). Akhwat itupun nampak mengeluarkan semua unek-uneknya kala itu. Tapi anehnya pemuda itu hanya diam mematung dengan tatapan mata tertuju jelas pada wajah akhwat itu. "Hai......... Kamu gak papa???",,, tanya akhwat itu mulai sadar kalau ia hanya berbicara sendiri tanpa ada yang mendengar. Sejenak pemuda itupun sadar, "astagfirlah.... maaf ya!!! tadi aku gak sengaja nabrak kamu." ucapnya agak gugup. "Syukurlah kamu sadar juga,,,aku kira tadi kamu kenapa-napa.", jawab akhwat itu diiringi senyuman yang sempat membuat pemuda itu kembali amnesia sesaat. Kejadian itupun berakhir saat pemuda itupun sadar kembali dan mulai bangkit membereskan map dan tas akhwat itu untuk menyampaikan rasa maafnya. Akhwat itupun juga menyusul bangkit. "Mari aku bantu bawa aja map dan tas kamu", tanya pemuda itu meminta persetujuan. "iya,,, terimaksih ya.... kita berteduh di halte itu saja, nampaknya akan hujan lebat nih." mereka pun berlari kembali untuk berteduh di halte bus depan persimpangan itu.

"Aku ilham,,," pemuda itu mulai memperkenalkan diri setelah beberapa menit berlalu tanpa kata setibanya di halte bus tersebut.
"oh,,, iya,,, aku anisa!" jawab akhwat tersebut sedikit gugup.
"kamu mahasiswa kedokteran di universitas X kan?", tanya pemuda itu mulai mencairkan suasana. "Maaf, tadi aku gak sengaja liat isi map kamu." lanjutnya dengan wajah sedikit agak menyesal. :(
"iya,,, kalau kamu?", aku juga sama mahasiswa universitas X tapi aku jurusan pendidikan agama islam.
"wah,,,calon ustad nih....",,, canda anisa dengan sedikit senyuman indah itu lagi.
"insya allah,,, selagi mampu mengajar dan berdakwah kenapa tidak?",,, jawab ilham dengan balasan senyum yang tak kalah manisnya.
Ribuan pertanyaan dan senyuman keluar dari keduanya sampai bis yang akan membawa mereka ke kampus pun datang. Dan merekapun berangkat bersama ke kampus. Namun mereka masih menjaga jarak dengan memilih bangku bis yang berlainan. Hari itupun berlalu dengan cepat. Rupanya hari itu bukanlah hari yang buruk buat anisa setelah bertemu Ilham,,, meskipun ia sudah memulai hari dengan tidak sempurna karena sehabis subuh tidur lagi dan bangun kesiangan, hujan dipagi hari, dan tak di ijinkan masuk kelas pagi gara-gara terlambat limabelas menit.

Hari itu adalah hari yang bersejarah buat ilham dan anisa. Nampaknya pertemuan singkat itu membawa virus yang sekarang mulai aktif menggelitik hati keduanya. Nampak Ilham yang mulai geisah memikirkar anisa,,,mulai dari senyumnya dan lembut suaranya. "Astagfirlah,,,ada apa dengan ku ini???",,, tanya ilham pada dirinya saat ia mulai sadar kalau itu salah. Begitupun anisa,,,hari-harinya berubah drastis... ia sekarang rajin berangkat pagi pagi ke kampus hanya ingin untuk betemu dengan ilham di halte bus dan bisa berangkat ke kampus bersama. Nampaknya ke duanya berharap untuk dapat bertemu kembali,,,namun sayang beberapa hari setelah kejadian itu mereka tak dapat beremu lantaran ilham tak ada kelas pagi selama tiga hari.

Hari hari pun berlalu dengan begitu lambat terasa oleh keduanya. namun ilham tak mampu lagi membnedung perasaanya untuk tak mengatakan pada anisa kalau sejak ia bertemu dengannya ada sesuatu yang berbeda terasa,,,terutama di hatinya. Ilhampun meberanikan menulis sebuah surat untuk anisa dan berharap ia dapat berjumpa kembali di halte bus atau di kampus. Dan semua berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Mereka bertemu kembali tepat di persimpangan jalan depan halte bus saat mereka hendak berangkat kuliah. Terlihat keduanya kikuk dan malu-malu. Keduanya pun merasa ada yang aneh kela mereka harus berjumpa kembali.

"emmh... a...a...ku... a..da.... se....su...atu buat kamu........" ucap ilham tampak kesulitan mengeluarkan kata kata itu.
"Apa itu?",,,jawab anisa ragu menanyakannya.
"ini....................",,, kata ilham sambil menjulurkan sebuah kertas berwarna merah jambu berpita senada.
Dengan ragu-ragu anisa menerima kertas itu. "Apa ini?",,,pertanyaan bodoh itu spontan keluar dari mulut anisa yang tambah membuat ilham gugup dan berkeringat dingin. Padahal pagi itu cuaca sangat dingin akibat hujan lebat tadi malam. Untung bus yang akan mengantar mereka datang dan merekapun segera berlari agar tidak ketinggalan bus tersebut.

Anisa memilih kursi nomer dua dari deretan supir dan ilham memilih duduk di kursi belakan dari anisa. Terliahat keduanya masih canggung dan mungkin saat ini roh mereka tak lagi pada raga mereka berdua. Entah kemana perginya roh itu tak seorangpun yang tahu kecuuali keduanya. Hati mereka merasa ada sesuatu yang salah yang telah mereka lakukan. Tapi bukankah ini yang di inginkan hati itu??? Hah,,, sungguh cinta sulit untuk di interpretasikan.
"Kau tak perlu jawab segera,,, pikirkanlah baik baik.......",,, ucap ilham lirih saat mereka turun dari bus. Anisapun hanya tersenyum dan mereka pun berlalu pada aktivitas masing-masing.

Haripun beranjak dengan cepat. Isi dari kertas merah jambu berpita itu adalah ungkapan ilham yang masih ragu dengan hatinya. Karena ia takut Kekasih Hakikinya merasa cemburu.



Dear...
Akhwat Yang Berkerudung Hijau Muda Saat Ku Jumpa

Salahkah diri ini jika ku mencintai mu?
Kau buatku tak tentu dengan perasaan yang tak ku tahu
Bola matamu yang indah selalu terbayang di mata
Senyum mu yang manis membuat iman ku menipis
Kau hadir di setiap mimpi ku
Kau buat ku gelisah selalu
Ku tak tenang jika di dekat mu
Ku ingin selalu memikirkan mu
Akankah kau merasakan itu?
Akankah perasaan mu sama dengan ku?
Entahlah,,,tapi jujur ku cintai mu!!!
Namun aku takut cinta ku ini di selimuti nafsu
Nafsu yang hanya akan buat kita terbelenggu
Ku ingin cinta ini tak melibihi cinta ku pada pemilik hati ku
Mengertikah engkau akan rasa ini???

Hati yang Ingin di merngerti

Ilham Ardyansyah

 Begitulah isi kertas merah jambu berpita itu yang saat ini membuat anisa merasa bimbang dan resah. Di lain sisi inilah yang ia inginkan,,, rasa yang sama dengan hatinya. Tapi,,, jauh dalam lubuk hatinya ia masih ragu jika Pemilik Hati yang sesungguhnya ia kecewakan dengan cinta dunia yang jelas fana. Anisa dan ilham pun masih mengintropeksi diri akan rasa yang bersarang dalam hati mereka. Semua hal telah mereka lakukan untuk medapat jawaban yang wakan membawa mereka pada satu titik kebahagiaan yang abadi. "Ya Allah,,, sesungguhnya hati ini adalah milik Mu dan hanya Engkaulah yang berhak ada di dalamnya. Engkaulah penggenggam jiwa dan raga ini. Sungguh dzalim jika hati ini berpaling dari Mu. Namun hamba tahu Cinta ini anugerah dari Mu. Satu pinta hamba pada Mu pemilik sejati setiap hati,,,, Jadikan rasa ini rasa yang kekal dan rasa yang akan membawa kami menuju surgamu." Tak kuasa tetesan air mata anisa membasahi mukenahnya saat ia berdoa memohon petunjuk.

Di sisi lain ilhampun demikian. Ia tak hentinya memikirkan apa yang telah ia lakukan dengan mengikuti rasa yang sebenarnya ia tak mengerti. Rasa yang hadir saat pertama ia berjumpa dengan anisa. Rasa yang merasuk pada relung jiwa yang seharusnya tak melebihi cintanya pada Ilahi. "Astagfirlah haladzim... Ampuni dosa hamba Mu ini Ya Allah,,, sungguh hamba benar benar orang yang merugi telah menuruti hawa nafsu hamba. dan tolong berilah hamba Petunjuk mu agar hamba tak jauh tersesat dalam permainan syetan yang terkutuk."

Jawaban dari doa doa merekapun terkabul oleh Allah,,, mereka berdua mendapat petunjuk yang jelas dan nyata. Tanpa ragu keduannya memutuskan untuk bertemu di persimpangan jalan saat pertama kali mereka bertemu. Terlihat di sana ilham yang telah menunggu anisa. Beberapa menitpun berlalu dan anisapun datang.
"Asalamualaikum akhi ilham.....",,,ucap anisa membawa seorang teman yang juga mengenakan baju kurung dan jilbab.
"Waalaikumsalam warahma...",jawab ilham setengah terkejut melihat anisa datang bersama temannya.
"kenalin,,ini zahra teman aku.....", kata anisa memperkenalkan temannya.
"ilham.....",ucap ilahm memberi senyum pada zahra.
Tampak persimpangan itu lenggang,,,karena penikmat jalanan itu masih belum keluar dari aktivitas mereka masing -masing. Sehingga mereka bisa dengan tenang berbincang di sana.
"Aku membawa zahra ke sini agar kita benar benar tak terhasut oleh syetan akhi......",,,anisa memulai perbincangan kembali setelah beberapa detik terlewati tampa kata.
"iya,,,aku juga ingin mengatkan sesuatu pada mu.....",,kata ilham.
"Biarkan aku terlebih dulu yang mengatakan sesuatu padamu akhi,,,"ucap anisa dengan menundukkan pandangannya.
"Sungguh kata yang kau coretkan pada kertas merah jambu berpita itu membuat hati ku terbang melayang entah kemana. maaf jika aku tak mampu membalas coretan itu. Aku tahu hati mu,,, jujur aku juga mersa demikian. Namun entah kenapa hati merasa malu jika ku berpaling dari cinta ilahi. Aku yakin kau lebih tahu akan ini. Jujur tak ada alasan untukku dapat menolak cinta mu. Dan sebaliknya. Tapi,,, bukan untuk saat ini. Entah kapan itu waktunya,,,biarlah Allah yang menjawab."....jelas anisa dengan tak kuasa membendung air matanya.
"ukhti,,, aku tahu jika ini berat untuk kita jalani. tapi aku lega jika rasa ku tak bertepuk sebelah tangan, Aku tahu ini rasa yang salah untuk kita terima saat ini. Sukron....atas semua jawaban ini. Akan ku tunggu waktu itu. ku tak mau berjanji apapun,,,untuk menjadikan mu sebagai pendamping ku menuju ridho Allah. Tapi satu yang harus kau tahu,,,, aku telah membulatkan niat ku untuk menjadikan kau makmum ku kelak, insya allah. Biarlah saat ini kita jalani hari hari kedepan sebagai seoarang saudara muslim.",,, ilhampun tak kuasa untuk menahan air matanya. Bagitupun dengan zahra yang dari tadi hanya bisa mematung mendengar berbincangan mereka berdua, ia juga tak bisa menahan air matanya. dan mengamini setiap doa yang di ucap ilham.

Ilham dan anisa pun merasa lega atas apa yang telah mereka ucapkan atas nama cinta yang sejatinya hanya milik Allah penggenggam setiap jiwa manusia. Mereka pun meninggal kan persimpangan itu dengan rasa yang bercampur aduk. Namun setidaknya mereka berbangga hati telah mengedepankan cinta Allah....

2 komentar:

Anonim mengatakan...

bagus... aku suka... :)

sulaiman alghifari mengatakan...

terimaksih... :)

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjuang nya, semoga bermanfaat dan membawa kita menuju ridho Allah :)Salam Super... :)
 
Copyright 2009 Kumpulan Puisi dan Cerpen Terbaru All rights reserved.
Free Blogger Templates by DeluxeTemplates.net
Wordpress Theme by EZwpthemes
Blogger Templates