RSS

Cerpen Islami Bertukar Kitab Suci

Bertukar Kitab Suci


Sore hari adalah saat yang tepat untuk menyaksikan mentari kembali ke peraduaanya. Saat di mana cahayanya akan meredup dan berganti gelapnya malam.  Terlintas nama Maria saat ku menatap ke ufuk barat dari balkon apartemen ku. Maria adalah seorang pernah yang mengisi hari-hari ku. Dia adalah teman satu kampus ku di Usyd (Sydney University). Kita adalah pasangan yang berbeda iman. Jujur selama menjalin hubungan dengannya tak sedikitpun kami mempermasalahkan atau membahas tentang kepercayaan kami masing-masing. Sebelum cerita ini di lanjut, izinkan aku perkenalkan nama ku. Aku Iqbal Alamsyah mahasiswa asal Surabaya, Indonesia. Aku terlahir dari pasangan suami istri yang sangat-sangat mengedepankan hukum islam dalam hidup ini. Sejak kecil aku sudah sekolah di sekolah islam hingga setelah lulus dari Senior Hight School aku mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Australia. Jujur kala itu  abi dan umi ku tidak setuju, namun dengan sedikit rayuan maut akhirnya aku di ijinkan juga mengambil beasiswa itu. Masih teringat jelas dalam bayang ku saat umi dan abi berpesan untuk tidak meninggalkan sholat, puasa, dan perbanyak ibadah meskipun di negeri orang. Jangan pernah takut sedikitpun untuk membela kebenaran. Dan untuk selalu membantu sesama semampu kita. Huuff... kala itu benar-benar perpisahan tersulit bagi ku. Apa lagi waktu itu aku aku baru lulus dari sekolah pesantren. Jadi sejak Junior hight school hingga detik ini aku jauh dari keluarga.

Tahun pertama di Australia adalah tahun tersulit bagi ku, terutama harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru ku. Apartemen yang aku tempati ini adalah apartemen yang memang disediakan khusus oleh pihak Universitas Sydney untuk mahasiswa asing seperti ku. Apartemen ku terletak di lantai sembilan dan semua penghuninya adalah mahasiswa asal Indonesia. Benar-benar perencanaan yang sempurna oleh pihak kampus, hingga kami penghuni lantai sembilan sudah seperti keluarga saja saat ini. Dan di sinilah aku mengenal sosok yang bernama Andinda Maria Fransiska asal Jakarta, Indonesia. Dia adalah seorang keturunan Cina, tinggi semampai, putih, berambut lurus dan yang paling aku kagumi darinya adalah kebaikan dan ke kekhusukannya beribadah dengan tidak pernah absen sekalipun untuk datang ke gereja setiap minggunya. Dialah orang yang pertama yang banyak membantu ku di sini untuk berkomunikasi dengan teman-teman lainnya, maklumlah english ku kala itu masih setandar dan aku juga kurang suka membuka diri pada orang yang belum aku kenal betul. Tapi tidak pada Maria, begitu ku memanggilnya. Dia tampak tahu apa yang ku ingin dan ku butuh, hingga tak jarang dia yang selalu menemani ku kemanapun aku ingin pergi. Meskipun umur kita sama, tapi maria adalah senior ku di kampus. Dia sudah menginjak semester tiga kala aku masuk ke universitas itu, hingga tak heran jika dia sudah hafal seluk beluk kota Sydney dibanding aku. Dia juga termasuk mahasiswi yang berprestasi, makanya ia ikut acseleray tinggkatan dan dinyatakan lulus dan langsung masuk semester tiga.

Detik demi detik pun pergi, hari demi hari pun berlalu, bulan demi bulan pun beranjak dengan cepat. Tanpa sadar kekaguman ku pada Maria berubah menjadi sebuah rasa yang tak ku mengerti artinya. Rasa yang membuat ku ingin selalu ada di sampingnya. Rasa yang membuat aliran darah berdesir kencang dari pada biasanya saat di dekatnya. Sebelumnya aku tak pernah merasakan hal semacam ini. Inikah yang di namakan cinta? Hah...entahlah, yang jelas hati ku bimbang dan resah. Aku takut Maria tak memiliki rasa yang sama pada ku. Tapi bagaimana aku bisa tahu kalau aku tak menanyainya? Sore itu pun aku ajak maria ke Bondi Bech, pantai dengan kilauan pasir putihnya yang memanjakan mata dan yang di hiasi dengan ombak yang cantik dan mempesona. Nah... inilah saat yang paling tepat untuk menyatakan rasa cinta ku padanya yang akan disaksikan oleh indahnya sun set Autralia.

"Maria, Jujur saat ini aku ingin mengatakan sesuatu pada mu. Sesuatu yang awalnya tak ku mengerti, namun semakin aku menutupnya ia semakin ingin menunjukkan diri." suara ku bergetar kala itu dan tak mampu ku menatap mata nya yang teduh.
"Apa itu?", tanyanya dengan suara yang lemah yang seakan ia tak kuasa tuk mengatakannya.
Sejenak ku masih ragu dengan apa yang ku lakukan ini. Namun dengan rasa yang bercampur aduk, ku beranikan diri tuk mengeluarkannya.
"Aku...Cinta...Sama Kamu Andinda Maria Fransiska, maukah kamu menemani ku untuk melukiskan sebuah cerita baru kita berdua?", dengan susah payah akhirnya kalimat itupun selesai ku ucapkan padanya. Dan seakan ada sebuah belenggu yang terlepas dari jiwa ku kala itu. Namun kurasa tak semuanya terlepas. Tak nampak ekspresi yang berubah dari wajah maria, namun........................................................................................................................................

"Ya, aku mau melukis hari-hari ku bersamamu. Tapi ingat satu hal.........................................", 
"Apa itu?", kejarku dengan sejuta semangat yang menggebu.
"Jangan pernah kau sakiti hati ku."
Ku hanya tersenyum dan ku beranikan diri tuk memegang tangannya, jujur selama ini kami belum sekalipun bersentuhan.
"I LOVE U MARIA................................", teriakku pada pantai tak berkasih.

Begitulah awal cerita cinta ku bersama maria yang disaksikan sun setnya pantai bondi yang menyejukkan mata. Hari hari berikutnya kami lewati dengan lebih saling berbagi kasih dan sayang. Layaknya pasangan lainnya kita selalu kemana mana berdua. Tapi aku tetap menjaga jarak dengannya, aku masih ingat pesan abi dan umi untuk selalu menghormati setiap kaum hawa yang lemah. Tak terbesit sedikitpun dalam akal dan hati ku untuk membawa maria pada hal hal yang negative seperti saran teman teman ku di kampus. Tak perduli mereka mengatai ku bodoh dan lain semacamnya. Yang jelas cinta ku tulus pada maria.  Setiap menjelang untuk menjemput mimpi, aku selalu menelfonnya hanya sekadar mengucapkan "Good night...have a nice dream... Dream of me... Bye...". Setiap malam aku selalu memikirkannya dan aku sudah menekadkan niat ku untuk menikahinya kelak setelah aku lulus. Namun bayang-bayang amarah abi dan umi sudah tergambar dalam benak ku jika beliau tahu calon menantunya adalah seorang kristiani. "Huuufff... sudahlah apa kata nanti. Pasti Allah memberi jalan untuk sesuatu yang baik." Selalu doa itu yang terucap jika ku sudah tak mampu lagi menemukan jalan keluar untuk masalah ini. Dan tidur adalah jalan terakhir yang ku pilih kala bayang bayang amarah abi dan umi semakin jelas tergambar. 




*********************************************************************************************************
Tiga tahun sudah ku tinggal di Australia. Dan ini tahun terberat bagi ku, pasalnya maria telah lulus dan berniat untuk kembali ke Indonesia. Sungguh ku ingin ikut pulang ke Indonesia, namun maria mencegah ku. "Perjalanamu tinggal sebentar lagi di sini. Percaya aku, kita pasti bisa bersama lagi nanti. Tolong jangan egois, tunjukkan kalau kamu bisa mewujudkan mimpi mu. Aku percaya kamu dan kamu harus percaya aku." ucap maria lirih di iringi deraian air matanya yang entah berapa banyak tertumpah kala kita berbincang di lobby apartemen. Aku pun juga tak kuasa untuk menitikan air mata ku. Sungguh berat kurasa saat itu. Dua hari lagi maria akan kembali ke Indonesia.

Siang itu nampak mendung, aku baru keluar dari Mesjid baitul huda, Marsden park, sydney. Setelah menyelesaikan sholat Jum'at berjamaah disini. Dua jam lagi maria akan kembali ke indonesia, kemarin sempat ku lihat Mama dan Papa maria datang untuk menjemputnya. Benar-benar hari tersulit bagiku. Sebentar lagi aku akan mengukir hari hari ku sendiri lagi, tanpa maria. Belum selesai ku memasang sepatu ku, tampak maria turun dari sebuah taxi. Segera ku berlari padanya. "Maria,... kamu...jadi berangkat sekarang?",,,tanyaku dengan suara setegar mungkin. Ku tak ingin Maria melihat ku bersedih. Namun................................
"Jaga diri kamu baik-baik ya, bal...................",,,,tangis maria mulai pecah dan ia mulai memeluk ku. Aku masih ragu untuk membalas  pelukannya. Tapi ku beranikan untuk membalas, karena ku ini adalah hari terahir maria di Australia. "Iya,,,pasti ku akan jaga diri baik baik. Kamu juga nanti di Indonesia harus bisa jaga kesehatan. jangan lupa untuk selalu  makan tepat waktu agar mag mu gak kambuh." Pesan ku padanya dengan suara bergetar dan akupun tak kuasa menahan air mata yang telah ku bendung beberapa hari ini. Dia pun melepas pelukannya dan memberiku Al Kitab yang selalu ia bawa. Melihat kebingungan ku mariapun berkata,,, "Maaf, iqbal... aku tak punya sesuatu yang berharga untuk ku berikan padamu. Hanya ini yang berharga bagi ku yang telah menemani ku ke manapun aku selama ini pergi. Tolong jangan tersinggung. Sungguh tiada maksud lain dari pemberian ini."
 Buru buru ku mengambil Al Qur'an dari dalam tas ku dan memberikan pada maria. Karena kado perpisahan yang ingin ku berikan padanya tertinggal di apartemen ku. Tadinya aku ingin memberikannya di airport. "Tolong terima ini, dan ingatlah aku sebagai seorang yang pernah singgah dihati mu saat lalu, sekarang dan selamanya." Air mata kami tak hentinya mengalir. Dengan erat maria menggenggam tangan ku. Dan dengan perlahan ia pun melepasnya dan pergi dengan taxi yang hanya menyisakan asap kenangan dan aku sendiri yang masih mematung di depan Masjid baitul huda, marsden park, sydney dengan memeluk al kitab pemberian maria.




***********************************************************************************************************

Hari hari berikutnya ku lalui dengan berat tanpa maria disisi ku. Namun di seberang sana maria masih suka mengirimi ku email dan tak ku lewatkan satu pesan pun darinya yang tak ku balas. Sesekali kita video call untuk melepas kangen. Maria juga selalu memberi ku semangat untuk meraih apa yang aku impikan. Dan itu adalah sesuatu yang sangat berharga dalam hidup ku ini.

Enam bulan berlalu tanpa maria. Sekarang ku sudah mulai bisa beradaptasi kembali tanpa maria. Kesibukan ku belajar menjelang ujian akhir membuatku jarang bervideo call dengan maria. Tapi emailnya selalu ku balas setiap saat. Ia pun mengerti kondisi ini. Namun yang aneh dari pesan pesan nya adalah sekarang ia lebih sering tanya tentang islam pada ku. Ku hanya bisa menjawab setahu ku saja dan ku sarankan dia untuk bertanya pada Ustad untuk lebih mendapatkan jawaban yang sempurna. Sempat ia memperingatkanku untuk tidak membuka atau membaca al kitab yang ia beri, entah kenapa tak pernak ku tanya padanya. Aku pun masih belum ada pikiran pikiran yang "aneh" tentang pertanyaannya kala itu. Karena aku pikir dia hanya sekedar bertanya. Karena saat itu otak ku sudah terinfus untuk fokus pada ujian akhir dan ujian akhir. Hingga tak timbul sedikit pun pertanyaan "Kenapa ia suka bertanya tentang islam? Apakah ia ingin masik islam? Apa yang mendasarinya? Bukankah ia aktivis gereja yang aktive?". 

Beberapa bulan terlewati dengan sempurna dan aku pun dinyatakan lulus. Sungguh senang rasa hati ini, ku tak sabar untuk kembali ke Indonesia bertemu dengan abi, umi, dan adik tersayang ku, serta Andinda Maria Fransiska tentunya. Sempat ku pikirkan kembali untuk menikahi maria dan pasti bayang bayang amarah abi dan umi yang selalu mengikuti. "Huuufff... akan ada masalah yang lebih besar nih." pikirku. Sore itupun aku segera membereskan semua barang-barang ku, karena besok siang aku akan meninggalkan Australia yang telah memberiku berjuta kenangan indah. Tak lupa ku kabari abi dan umi untuk menjemput ku di juanda, airport, surabaya, Indonesia. Dan tak lupa juga ku kontak maria dengan video call. tapi nampaknya maria tak menjawab. "Ada apa ini? Bukankah maria tahu kalau saat ini aku telah lulus. Apa ia sudah tak mau berbicara pada ku?", ku hapus semua pikiran negative itu. ku coba kembali mengontaknya dan setelah beberapa kali baru muncul wajahnya. Tapi....aneh, wajahnya terlihat lebih berseri dan......................Subhanallah,,, ia berjilbab. Seketika itu roh ku meloncat entah kemana. Ia meloncat lebih jauh lagi kala ku dengar kata salam yang begitu merdu dengan senyuman manis semanis suasana kala itu. "Asalamualaikum akhi Iqbal....." :) beberapa detik kemudian roh itupun kembali pada raga ku. dengan rasa senang yang tiada bisa ku ungkap dengan kata maupun coretan tinta, ku jawab salam itu. "Waalaikum salam warahma...... Ini benar kamu? Subhanallah..............." :)

"Iya akhi, ini Siti Mariyam..." :)
"Subhanallah....jadi selama ini pertanyaan pertanyaan kamu itu..............................".....
"Iya .........ceritanya panjang, saat sampai di sini, aku merasa begitu sangat rindu pada mu, dengan rindu yang mendalam itu ku buka dan kubaca hadiah terindah dari mu yang telah membuka pintu hidayah untuk ku......................................................................................................" potongnya......dengan bercerita panjang kali lebar hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjadi seoranga muslim.
"Subhanallah.... ", hanya kalimat itu yang mampu ku ucap.

Segera ku bertolak dari negeri kangguru yang telah memberiku berjuta kenangan dan mimpi. Tak lupa ku sempatkan untuk sholat duhur di mesjid baitul huda sebelum ku berangkat ke airport. Setibanya ku di juanda airport, ku lihat abi, umi dan adikku tercinta "Aisyah". Segera ku hampiri mereka. Abi dengan rasa senangnya juga berlari ke arah ku di ikuti umi dan aisyah. Abi memelukku dengan erat. Tampak air mata mereka mulai mengalir kala itu. Begitupun aku yang tak kuasa lagi menahan air mata kebahagiaan ini. Selepas abi memelukku, segera ku peluk umi dengan erat pula. Kami pun pulang ke rumah yang selama empat tahun ini baru dua kali kutemui. Di mobil umi dan aisyah banya bertanya tentang ku, terutama aisyah yang bertanya tentang oleh oleh yang ia pesan.

Dua minggu telah ku lewati di kota kelahiran ku ini. Aku dan maria masih suka bervideo call. Dia sangat gembira sekali aku bisa sampai dengan selamat. Tanpa ku sadar abi dan umi memperhatikan aku yang lagi bervideo call dengan maria.
"hayooo... siapa itu? kok pake kata sayang sayang tadi umi denger ya abi???", tanya umi mulai menggodaku setelah ku menutup kontak dengan maria. Ku ceritakan semua tentang maria sejak kita pertama bertemu dan menjadi kekasih, dan maria yang sekarang menjadi muallaf karena hadiah al quran yang ku beri, serta niat ku yang ingin memperistrinya setelah lulus kuliah. Nampak abi dan umi bangga dan senang dengan cerita ku selama ini. Tak seperti bayangan ku dulu, sekarang semua berubah.

Ku utarakan maksud abi dan umi ku yang ingin segera melamarnya. Namun maria masih merasa ragu akan lamaran itu, pasalnya mama dan papanya sampai detik ini pun masih belum mengetahui kalau sekarang ia seorang muslim. Tapi dia sudah bertekat untuk menyampaikan hal tersebut segera. Dua minggu lebih maria tak lagi menghubungiku dan tak bisa ku hubungi. Dan sore itu hanfonnya berhasil ku hubungi,,, namun terdengar suara tangis diseberang sana.
"Asalamualaiku... kamu kenapa?" tanyaku panik
"Waalaikumsalam akhi,,, durhaka kah aku ini?", tanyanya masih dengan tangisan.
"Maksud kamu apa?" tanyaku mulai bingung.
"mama dan papa ku tak lagi menganggap aku sebagai anaknya karena aku sekarang menjadi seorang muslim. Dan saat ini aku sudah di usir dari rumah. Sekarang aku tinggal di sebuah panti asuhan islam di daerah jakarta selatan...................................................................................", ceritanya panjang masih dengan suara tangisan yang semakin pecah.
"Sudah,,, kamu jangan bersedih. Ini ujian dari allah...  Insya allah jika kita mampu melewatinya dengan sabar,,, pasti kebahagiaan yang akan kita dapat. Kamu tenang ya. Sekarang juga aku akan menjemput kamu." Ucap ku memenangkannya.

Detik itupun aku pergi ke jakarta, abi dan umi sangat sangat mendukung apa yang ku lakukan. Bahkan beliau juga ingin ikut menjemput maria, namun aku tolak. Setibanya di tempat yang di maksud maria aku segera masuk dan bertanya pada seorang ibu tentang keberadaan maria. Dan ternyata benar maria ada di sana. Ku minta ijin untuk membawa maria pada ibu itu yang ternyata pimpinan panti asuhan tersebut.
Segera ku bawa maria ke rumah ku. Nampak abi dan umi senang sekali padanya. Begitu aisyah yang cepat sekali akrab dengannya. Beberapa bulan kemudian kamu menikah, namun kala itu maria masih mengharap mama dan papanya datang ke acara pernikahan kami. Tapi semua itu tak terwujud tapi beberapa hari setelah pernikahan kami, mama dan papa maria yang saat ini menjadi mertua ku datang ke rumah meminta maaf dan memberi restunya pada kami.



Lengkap sudah kisah cinta kami berdua.  Beginilah hidup,,, hidup itu ujian. Siapa yang mampu melewatinya dengan sabar dan penuh keikhlasan, Insyaallah hasil akhirnya akan sesuai dengan apa yang kita inginkan....................................................................................................

#salam kasih dari aku untuk semua para pembaca... semoga bisa membawa hikmah bagi kita semua... kritik dan saran masih sangat saya butuhkan....

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Saya kurang suka judulnya!

sulaiman alghifari mengatakan...

mungkin ada alasan yang bisa di utarakan dari ketidak sukaan sobat terhadap judul cerpen ini?
terimakasih sebelumnya dan maaf baru balas :)

Poskan Komentar

Terima kasih atas kunjuang nya, semoga bermanfaat dan membawa kita menuju ridho Allah :)Salam Super... :)
 
Copyright 2009 Kumpulan Puisi dan Cerpen Terbaru All rights reserved.
Free Blogger Templates by DeluxeTemplates.net
Wordpress Theme by EZwpthemes
Blogger Templates